https://journal.stpreinhalarantuka.ac.id/e-jr/issue/feedJURNAL REINHA2026-06-18T13:38:46+07:00Yosep Belen Keban, S.S.,M.,Mlppmstpreinhalarantuka@gmail.comOpen Journal Systems<p style="text-align: justify;"><strong>Jurnal Reinha</strong> adalah jurnal cetak dan online Sekolah Tinggi Pastoral Reinha Larantuka yang telah memiliki Nomor E-ISSN : 2807-2669 dan P-ISSN : <u>2089-3159 dengan Nomor SK ISSN : 0005.28072669/K.4/SK.ISSN/2021.08</u>. Jurnal ini terbit setiap bulan <strong>Desember dan Juni</strong>. Artikel yang dimuat adalah adalah artikel yang bertemakan Pendidikan dan Pengajaran Agama Katolik, Budaya, Sosiologi, Pastoral, Ekopastoral, Katekese, Kitab Suci, Perkawinan Gereja Katolik, Teologi Katolik, dan juga isu-isu kependidikan secara umum dan merupakan hasil penelitian atau studi pustaka, terutama dari para dosen, alumni dan mahasiswa baik dari lingkungan kampus maupun dari luar kampus STP Reinha.</p>https://journal.stpreinhalarantuka.ac.id/e-jr/article/view/447TANGGUNG JAWAB PASTOR PAROKI TERHADAP PELAYANAN ADMINISTRASI PAROKI MENURUT KHK 1983 DAN RELEVANSINYA BAGI KEHIDUPAN UMAT BERIMAN2025-12-15T03:35:24+07:00Eugenius Koresy Bourboureugene548@gmail.comYohanes Vebylius Kono boureugene548l@gmail.com<table width="605"> <tbody> <tr> <td width="428"> <p>Kajian ini bertujuan untuk membahas dan menjelaskan tanggung jawab pastor paroki terhadap pelayanan administrasi paroki berdasarkan KHK 1983 dan relevansinya bagi kehidupan umat beriman. Kajian ini merupakan kajian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumen, yakni menghimpun informasi dari berbagai sumber literatur dan KHK 1983 menjadi sumber data primer. Data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif. Berdasarkan KHK 1983, pastor paroki merupakan penanggung jawab utama pelayanan administrasi paroki. Pelayanan administrasi paroki dapat mendukung pelayanan pastoral pastor paroki untuk mencapai kebaikan bersama umat paroki. Jadi, sebagai gembala umat, pastor paroki juga mempunyai tanggung jawab dalam urusan-urusan pastoral, termasuk pelayanan administrasi paroki. Tanggung jawab pastor paroki terhadap pelayanan administrasi paroki merupakan aspek krusial yang secara langsung mempengaruhi kualitas pelayanan pastoral dan kehidupan umat beriman.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-06-18T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 JURNAL REINHAhttps://journal.stpreinhalarantuka.ac.id/e-jr/article/view/509DUALISME YOHANES YANG NON-DIKOTOMIS: TERANG-GELAP, ATAS-BAWAH, DAN ROH-DAGING SEBAGAI STRUKTUR PEWAHYUAN2026-06-04T09:09:29+07:00Janti Sudono yanti.26.sudono@gmail.comLaurentius Prasetyo yanti.26.sudono@gmail.comFelisitas Yuswanto yanti.26.sudono@gmail.com<p> </p> <table width="605"> <tbody> <tr> <td width="428"> <p>Penelitian ini membahas dualisme dalam Injil Yohanes, khususnya terang-gelap, atas-bawah, dan roh-daging. Dualisme ini kerap ditafsirkan secara dikotomis atau bahkan cenderung gnostik. Melalui pendekatan teologis-biblis dengan analisis eksegetis-naratif dan sintesa kristologis, penelitian ini berargumen bahwa dualisme Yohanes bukan merupakan pembelahan ontologis antara realitas ilahi dan manusiawi, melainkan berfungsi sebagai struktur pewahyuan yang mengarahkan pembaca pada dinamika relasional iman. Analisis terhadap teks-teks kunci Injil Yohanes menunjukkan bahwa oposisi-oposisi tersebut berpusat pada peristiwa inkarnasi kristiani sebagai kunci hermeneutik yang menyatukan dimensi ilahi dan manusiawi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terang-gelap menyingkapkan dinamika relasional, kehadiran Allah dan keputusan iman manusia, atas-bawah menegaskan asal pewahyuan dan pengutusan Kristus, sementara roh-daging mengartikulasikan respons iman yang bersifat eksistensial. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa pembacaan non-dikotomis memandang dualisme Yohanes sebagai struktur pewahyuan kristologis yang koheren, yang mengintegrasikan inisiatif Allah dan respons manusia.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-06-18T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 JURNAL REINHAhttps://journal.stpreinhalarantuka.ac.id/e-jr/article/view/517DIALOG INTERRELIGIUS DAN IMPLIKASINYA BAGI PELAYANAN PASTORAL GEREJA MARIA RATU PARA RASUL CURAHJATI2026-06-05T08:49:26+07:00Deni Daniel Nodanielnodeni@gmail.com<p> </p> <table width="605"> <tbody> <tr> <td width="416"> <p>Artikel ini mengkaji praktik dialog interreligius dan implikasinya bagi pelayanan pastoral di Gereja Maria Ratu Para Rasul Curahjati, Banyuwangi, dalam konteks masyarakat yang majemuk. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui studi kepustakaan dan pengamatan terhadap praktik pastoral di wilayah pusat paroki. Hasil kajian menunjukkan bahwa dialog interreligius diwujudkan dalam kerjasama budaya-liturgis, kerja sama keamanan lintas agama, serta pelayanan sosial dan kemanusiaan. Praktik-praktik tersebut menunjukkan bahwa dialog tidak hanya menjadi gagasan teologis, tetapi hadir sebagai kesaksian iman yang nyata dalam kehidupan bersama. Temuan ini menegaskan bahwa dialog interreligius menjadi dasar pembaharuan pelayanan pastoral yang lebih terbuka, inklusif, partisipatif, dan kontekstual. Dengan demikian, pelayanan Gereja tidak hanya memperkuat kehidupan iman umat, tetapi juga mendorong terbangunnya persaudaraan, toleransi, dan kesejahteraan bersama di tengah masyarakat multireligius.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-06-18T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 JURNAL REINHAhttps://journal.stpreinhalarantuka.ac.id/e-jr/article/view/519AJARAN CINTA KASIH SEBAGAI LANDASAN ETIKA DI MEDIA SOSIAL BAGI ORANG MUDA KATOLIK2026-05-30T08:14:05+07:00Severinus Buang Piranrobert.piran91@gmail.comLaurentius Prasetyorobert.piran91@gmail.com<table width="605"> <tbody> <tr> <td width="422"> <p>Latar belakang penelitian ini adalah realitas keterlibatan OMK yang aktif berinteraksi dan berekspresi di ruang digital namun belum sepenuhnya diimbangi dengan kesadaran etis. Tujuan penelitian adalah untuk merumuskan bentuk etika yang berlandaskan ajaran cinta kasih (agape) bagi Orang Muda Katolik (OMK) di ruang digital. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan teologis deskriptif yang menggunakan teknik pengumpulan data studi pustaka dan teknik analisis deskriptif kualitatif. Relevansinya adalah dengan membagikan renungan harian dan refleksi pribadi, menghindari hoaks dan ujaran kebencian, serta mempublikasikan tulisan, gambar, dan video yang memotivasi dan inspiratif. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada upaya pengintegrasian ajaran cinta kasih (agape) sebagai landasan etika bagi OMK di ruang media sosial. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa aktualisasi ajaran cinta kasih dapat diwujudkan dengan praktik etika digital berupa penggunaan bahasa yang penuh kasih, menolak ujaran kebencian dan perundungan siber, serta penyebaran konten positif dan inspiratif. Berbagai praktik ini dapat menjadi acuan praktis bagi OMK dalam membangun relasi yang sehat dan bertanggung jawab di ruang media digital.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-06-18T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 JURNAL REINHAhttps://journal.stpreinhalarantuka.ac.id/e-jr/article/view/521DARI KUANTITAS KE TOTALITAS: MAKNA TEOLOGIS PERSEMBAHAN JANDA MISKIN DALAM LUKAS 21:1–4 DAN RELEVANSINYA BAGI SPIRITUALITAS KRISTIANI2026-05-30T08:11:40+07:00Siprianus Soleman Sendasendasiprianus@gmail.comFladimir Siesendasiprianus@gmail.comMikhael Valens Boysendasiprianus@gmail.com<table width="605"> <tbody> <tr> <td width="428"> <p>Kisah janda miskin dalam Lukas 21:1–4 menghadirkan refleksi teologis yang mendalam tentang makna memberi dalam kehidupan beriman. Dalam praktik religius, tindakan memberi kerap dipahami secara kuantitatif dan lahiriah, sehingga mengabaikan dimensi batiniah dan spiritualitas yang mendasarinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna teologis persembahan janda miskin sebagai ungkapan totalitas diri dalam relasi dengan Allah. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan teologis-eksegetis, melalui analisis konteks literer, historis, dan teologis teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persembahan janda miskin merupakan tindakan iman yang radikal, karena ia memberi bukan dari kelimpahan, melainkan dari kekurangannya, yang mencerminkan kepercayaan total kepada Allah. Dengan demikian, perikop ini menegaskan keutamaan kualitas iman dibandingkan kuantitas materi serta menjadi kritik terhadap religiositas yang bersifat formalistik dan dangkal.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-06-18T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 JURNAL REINHAhttps://journal.stpreinhalarantuka.ac.id/e-jr/article/view/531URGENSI PERAN AWAM DALAM KATEKESE DI ZAMAN KONTEMPORER2026-05-30T08:01:00+07:00Evander Betran Anggur evanderbetrananggur@gmail.comRobialdus Tetoevanderbetrananggur@gmail.com<table width="605"> <tbody> <tr> <td width="428"> <p>Penelitian ini bertujuan menemukan peran awam dalam katekese di zaman kontemporer. Zaman kontemporer ditandai oleh berbagai perubahan cepat dalam bidang sosial, budaya, politik, dan teknologi. Globalisasi, sekularisasi, pluralisme agama, serta revolusi digital telah membentuk cara hidup dan cara berpikir manusia modern. Dalam konteks ini, Gereja Katolik menghadapi tantangan serius dalam melaksanakan katekese, karena nilai-nilai Injil sering kali berbenturan dengan arus utama zaman. Kaum awam, yang hidup langsung di tengah realitas dunia sehari-hari, memiliki posisi strategis untuk menjadi agen katekese yang efektif. Dokumen Gereja menekankan panggilan awam untuk terlibat aktif dalam misi evangelisasi. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode dokumentasi dengan menganalisis dokumen magisterial, buku, dan artikel jurnal. Hasil penelitian menunjukkan tiga peran utama awam dalam katekese di zaman kontemporer: menjadi saksi iman yang autentik di tengah budaya sekuler,menjadi dialogator yang membangun jembatan antara iman dan berbagai realitas zaman; menjadi kreator metode dan media katekese yang kontekstual. Ketiga peran ini menegaskan bahwa awam bukanlah objek pasif dalam katekese, melainkan subjek yang dipanggil untuk mewartakan Injil dengan cara-cara baru yang sesuai dengan tantangan zaman.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-06-18T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 JURNAL REINHAhttps://journal.stpreinhalarantuka.ac.id/e-jr/article/view/539STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK: ANTARA KOMPETENSI PEDAGOGIK DAN SPIRITUALITAS PANGGILAN2026-06-08T10:40:05+07:00Anastasia Bitabitaanastasia053@gmail.com<table width="605"> <tbody> <tr> <td width="422"> <p>Pendidikan Agama Katolik berperan penting dalam membentuk karakter moral, dan spiritualitas peserta didik. Namun, beberapa daerah di , khususnya di Kalimantan Timur, masih mengalami kekurangan guru PAK sehingga sekolah melibatkan guru seagama dari bidang lain maupun lulusan teologi, filsafat dan mantan calon imam<em> (Frater) </em>untuk mengajar. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kompetensi pedagogik dan spiritualitas panggilan dalam pembelajaran PAK serta mengidentifikasi strategi pengembangan guru yang relevan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur melalui analisis jurnal, buku, dokumen Gereja, regulasi pemerintah dan sumber pendukung lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berlatar belakang teologi, filsafat, dan mantan calon imam memiliki kekuatan dalam spiritualitas dan pendalaman iman, tetapi Sebagian masih memerlukan penguatan kompetensi pedagogik. Sebaliknya, kompetensi pedagogik tanpa spiritualitas yang memadai dapat mengurangi dimensi pembinaan iman dalam pembelajaran. Oleh karena itu, kompetensi pedagogik dan spiritualitas panggilan merupakan dua aspek yang saling melengkapi. Pengembangan guru dapat dilakukan melalui pelatihan pedagogik, Kelompok Kerja Guru (KKG), mentoring, pemanfaatan teknologi Pendidikan, serta kerja sama antara sekolah, pemerintah dan Gereja.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-06-18T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 JURNAL REINHA